Tuesday, 25 May 2010

Petualangan Seru! :)


Day 1, March 31st, 2010

            Perjalanan saya dimulai dari Pekanbaru menuju Padang, pukul 1400 siang dengan menggunakan kendaraan umum, kami menyebutnya "kendaraan sewa executive" yang sebernarnya mobil pribadi dapat izin untuk digunakan sebagai kendaraan travel. Berita buruknya, jalan Bukittinggi-Padang putus karena longsor, itu artinya perjalanan ke Padang harus melewati Tanah Datar dan Solok, yang artinya lagi akan lebih lama 2,5 jam dari waktu tempuh normal. Melewati kelok sembilan, hujan lebat luar biasa. Sopir sampai kewalahan mengendarai mobil karena jalan mulai terlihat kabur, meskipun wiper mobil bekerja dengan aktif, sopir tetap terlihat seperti meraba-raba. Kondisi mulai macet saat sebuah truk dan kendaraan berat berjalan sangat lamban di depan. Tebing sisi kanan sudah mulai longsor karena air hujan yang sangat lebat. Sopir mulai kelihatan khawatir, penumpang mulai terlihat tegang, apalagi saat sopir berusaha keras memotong mobil di depan dan tetap berusaha jauh dari longsoran. Selain longsoran, ada hal lain yang membuat khawatir, kelok sembilan masih dalam masa pembangunan jembatan, penumpang khawatir balok-balok beton yang belum kuat atau besi, dan material pembuat jembatan nantinya jatuh menimpa mobil.

            Lucunya ditengah kekhawatiran ada saja hal yang mengundang tawa. Kami melihat sekumpulan pengendara sepeda motor berteduh di bawah batu besar yang menempel di tebing sebelah kiri. Jika tebing bagian atas longsor dan membuat batu besar lepas dari tebing, mereka bisa gepeng di timpa batu ;D. Untungnya di daerah Sitinjau Laut yang dikhawatirkan akan macet, ternyata mulus :), karena sudah lewat jam macet sepertinya. Meskipun perjalanan jadi lebih jauh, saya senang-senang saja, karena akan melewati danau Singkarak, tapi karena lewat malam danaunya tidak terlalu kelihatan. Akhirnya, pukul 12 malam sampai juga di Padang, saya numpang menginap di rumah sahabat saya Bia di jalan Andalas.

Day 2, April 1st, 2010

            Subuh-subuh menunggu angkot menuju Simpang Haru, tempat bus menuju BIM (Bandara Internasional Minangkabau) biasa mangkal. Sebenarnya tidak begitu jauh dari rumah teman saya, sekitar setengah kilo saja, tapi niatnya hemat tenga :). Sampai di Simpang Haru ternyata sudah ada "my partners in crime", Quyat dan Thaend, wow, sudah hampir 2 tahun kami tidak bertemu. Quyat adalah teman dekat saya di UKM Wushu UNand Padang, dan Thaend adalah teman Quyat, yang akhirnya jadi teman saya. Ternyata belum ada bus bandara, kami didatangi sopir taksi, kami kira mahal, ternyata 20ribu saja/orang ke bandara. Cihuyyy!! Seharga bus bandara. Okelah :)

            Ceritanya kami backpacker nasionalis, saya dan Quyat kompakan pakai Batik ke KL.  


Thaend awalnya niat pake kaos dengan tulisan " I love Indonesia" tapi entah kenapa tidak jadi, hehehe. Sampai di bandara kami mencari Pae, teman kami satu lagi, yang berangkat belakangan dari Pekanbaru, dan harus menginap di bandara, backpacker gituloh..! Akhirnya, personel lengkap.

            Pukul 0830 pesawat berangkat menuju KL, dan sekitar pukul 1030 waktu Malaysia sampai di LCCT KL. Bagi saya, Thaend, dan Pae ini merupakan perjalanan luar negeri pertama, lain dengan Quyat yang sudah pernah trip KL-Singapore sebelumnya. Seperti sudah diduga, yang menjadi bahan guyonan tentunya bahasa, seperti "tali keledar" (sabuk pengaman), "Telepon bimbit" (telepon genggam) "ketibaan dalam negeri" (domestic arrival), "tandas" untuk toilet, dan yang bikin Thaend bingung namun akhirnya cekikikan "MEL" untuk Mail..hihi..lucu juga orang Malaysia, mengartikan English sesuai dengan kedengarannya. Di tandas wanita, saya bertemu serombongan turis Thailand, sambil melihat saya dari atas kebawah seseorang berujar,
"your dress look lovely",
I said, "thank you, it's Batik, I'm from Indonesia!" :D
"owh, I want to go to Bali," katanya.
I said, "but I came from Padang, West Sumatera" dia tanya lagi,
"Which part?", "Western Indonesia," jawab saya. Fiuhh...kenapa harus selalu Bali :(.

            Kami naik bus menuju KL Sentral, sampai disana kami kelaparan, memikirkan budget, kami pilih makan di KFC. Karena fast food kami pikir seleranya pasti universal, ya cocok aja mungkin. Ternyata tidak ada nasi putih, yang ada nasi briyani, ayam goreng, kentang halus, dan coleslaw. Thaend yang seleranya Padang banget langsung patah semangat, tambah lagi bumbu ayam gorengnya ternyata beda dari yang ada di Indonesia, kalau menurut saya rasanya asin saja. Sepertinya memang di sesuaikan dengan selera setempat. Bagaimanapun juga kami lapar, ya di hajar saja ;D.

            Kami naik taksi menuju penginapan, kepada sopir taksinya kami bilang akan ke Radius International Hotel, dan memang kami di turunkan di lobby Radius, padahal tujuan utamanya guest house Pondok Lodge, yang sekitar 100 m sebelah kiri Radius, tapi sesuai petunjuk di websitenya, kami turun di Radius. Sampai grogi dibukain pintu sama petugas hotel Radius, tapi abis itu ngacir ke Pondok Lodge. Maafkan Bapak :D...
            Celingak celinguk, eh, ternyata Pondok Lodge ada di sebelah kiri, dari luar terlihat seperti bangunan ruko lama, yang agak kusam, receptionistnya ada di lantai dua, kami langsung check in, di kasih room dengan empat bed, seharga RM105 pernight, keuntungan room lebih lapang dari pada dorm, tempat tidurnya juga satu-satu, bukan model bertingkat. Kami cukup terkesan dengan kamar yang bersih dan pemandangan langsung ke jalan Bukit Bintang. Pae yang kurang tidur, langsung terkapar, saya, Quyat, dan Thaend mengekplorasi Pondok Lodge. Penginapan ini serasa di rumah sendiri, beberapa kamar ada yang untuk keluarga dengan satu bed ukuran besar, kamar untuk tiga orang tamu, ataupun yang model asrama. Dapurnya untuk bersama dengan tulisan "wash your own dish after use it", ada tiga kamar mandi yang bersih. Benar-benar terasa di rumah. Kami duduk di roof top, cukup menyenangkan disini beberapa kursi, bunga, dan kolam kecil dengan air mancur. Quyat langsung mempraktekkan ilmu potography-nya (meskipun masih amatiran), hehehe. Gedung-gedung sekeliling jadi objek poto dan kami sendiri tentunya, cheers :)!


Sorenya sekitar pukul 1700 kami bertiga jalan ke area Bukit Bintang, sementara Pae masih , membayar utang tidurnya. Bukit Bintang adalah kawasan ramainya KL, terdapat banyak Mall, tempat nongkrong, sebagian orang mengatakan Bukit Bintang  sama dengan Orchard Roadnya Singapura. Di Pavilion Mall ada beberapa mobil F1 yang dipamerkan, kebetulan saat itu lagi ada kompetisi F1 Malaysia, kebetulan jadi objek bagus buat poto.  

Seperti biasa, yang paling saya cari adalah toko buku, secara saya penggemar berat buku anak. Hasil brwosing si internet di Pavilion mall ada Times bookstore di Lt 6. Saya girang bukan kepalang ketemu buku Little Darlings, karya terbaru Jacqueline Wilson, pengarang buku anak favorit saya! Hurray! Meslipun sedikit mahal, tidak apa-apa, kapan lagi saya bisa beli buku baru JW terbitan terbaru, versi Englishnya lagi :) Sebenarnya lapar mata melihat buku-buku bagus, tapi saya diingatkan Quyat untuk ga kalap, hehehe.



            Malamnya kami wisata kuliner ke Jln. Alor, yang berdekatan dengan Bukit Bintang, mencari-cari menu makanan yang cocok di perut, dan yang penting ada nasinya, mengingat Thaend yang perutnya Padang banget. Akhirnya kami memilih Thai Cuisine, anehnya Thaend malah pesan Pad Thai (mie goreng Thailand) yang untungnya cocok dengan seleranya. 



            Selesai makan kami lanjutkan petualangan ke Petaling Street, katanya disana bisa beli barang-barang "yang tidak begitu asli" dengan harga murah. Serunya malam-malam di jalanan Kuala Lumpur, ketawa-ketiwi membaca tulisan-tulisan di jalan yang bahasanya lucu menurut kami, hehe. Tidak lupa berfoto di gerbang utama Petaling Street, minta tolong sopir taksi. Saya tidak begitu tertarik dengan barang-barang di Petaling, dan ga beli apapun, sebaliknya Thaend sangat antusias melihat-lihat dompet dan barang-barang lainnya, bahkan waktu kembali ke Pondok Lodge, dia niat balik lagi, katanya masih penasaran :)


            Malam mulai larut, kami kembali ke Bukit Bintang niatnya mau tidur, lha, Bukit Bintang baru saja "bangun". Kehidupan dimulai dari sekitar pukul 0900 malam, rame banget, sepanjang jalan bar-bar yang tadi siang sepi, ternyata pada buka dengan berbagai macam hiburan. Lantai satu Pondok Lodge ternyata juga dipakai sebagai bar dengan kursi-kursi santai dibagian teras luar, mmhh...begitu rupanya. Meskipun identik dengan "kehidupan malam", tapi bagi saya pribadi yang terlihat satu-satunya pake kerudung, merasa nyaman saja. Mereka pun tidak terlalu peduli dengan apa yang saya pakai, lagipula kan ga ngapa-ngapain.




Day 3, April 2nd, 2010

            Hari ketiga petualangan saya, hari kedua kami di KL. Agenda hari ini pergi ke Genting Highland, kawasan kasino dan theme park. Kami berjalan menuju "hentian Bas Puduraya" atau station Puduraya. Sekitar pukul 9 sampai disana, ternyata bus pertama ke Genting baru saja berangkat, bus selanjutnya berangkat pukul 11. Akhirnya kami beli tiket bus jam 11 sekalian beli tiket cable car menuju Genting Highland. Sekitar dua jam lagi sebelum jam 11, kami jalan ke Pasar Seni. Pasar Seni adalah pusat penjualan oleh-oleh khas Malaysia, gantungan kunci, pajangan, kain sari khas India, termasuk Batik (don't ask me about this :) Kami agak kepagian ke Pasar Seni karena belum semua toko yang buka, ketika mendatangi sebuah toko, kami terkesan dengan kakak penjualnya, cantik dengan rambut di cepol dan berpakaian baju kurung Melayu berwarna pink. Quyat sampai ngefan dan ga lupa berfoto. 

            Kami memanggilnya Kak Ros, mengingatkan tokoh Kak Ros di serial anak asal Malaysia, Upin & Ipin. Dia senyum-senyum saja, tiba-tiba entah karena merasa kenal dengan logat bicara kami, si Kak Ros bertanya,
"Dari mana?"
"Dari Padang, " kami menjawab.
Tiba-tiba Kak Ros berkata, "awak urang Pariaman mah!" (saya orang Pariaman) GUBRAaAKkk!! Ternyata orang Minang, pede bener memanggilnya Kak Ros :D, Pariaman adalah sebuah Kabupaten sekitar 1,5 jam dari pusat kota Padang. Kak Ros pun bercerita tentang rumah keluarganya yang juga kena musibah gempa beberapa waktu lalu. Memang begitulah orang Minang, merantau kemana-mana :).

            10 menit menjelang pukul 11, kami buru-buru ke hentian bas Puduraya, akhirnya naik bas menuju Genting. Sekitar satu jam perjalanan kami sampai di perhentian bus Genting, selanjutnya naik cable car ke Genting High Land. Inilah yang paling saya tunggu, sedikit menegangkan tapi seru. Thaend yang acrophobia mulai berfantasi. Saat cable car beranjak naik dan di bawah terlihat batu karang, Thaend bilang " kalau saja jatuh, mampuslah!" wahahhaha..dasar parno, pikirannya kemana-mana. Tapi memang sich, meskipun kita yakin aman tetap saja pikiran-pikiran buruk melintas, naik Cable car sejauh sekitar 3,38 Km (terpanjang di Asia Tenggara), yang makin lama semakin meninggi, benar-benar bikin keder, sampai bergerak sedikit saja takutnya minta ampun. Hueee...T_T. Untungnya cuaca cukup baik, karena katanya kalau ada hujan dan angin cukup kencang, cable car bisa dihentikan beberapa menit. Walah! Akhirnya Genting Highland mulai kelihatan, begitu tingginya kawasan ini, sampai puncak bangunan seolah masuk ke awan, dan dingiiiiinnnnn...bbrrrr!!!

            Setelah berputar-putar akhirnya kami menemukan jalan menuju loket theme park, beli tiket cukup mahal juga, tapi saya lupa persisnya berapa, yang jelas kalo di rupiahkan sekitar 100rb lebih sedikit. Masuk ke theme park, bingung mau naik apa, belum ada yang kelihatan menantang. Akhirnya kami putuskan naik Flying Coaster, bukannya langsung naik, malah kena bayar tambahan RM10, yeee...bayar mahal-mahal ga termasuk Flying Coaster! :( Akhirnya ikutan juga, tapi minus Thaend, karena acrophobia-nya kumat :D. Flying Coaster cukup seru, sayangnya pas lagi menikmati ketegangan, permainan berhenti, sial!

            Selesai naik Flying Coaster kami melihat kapal raksasa seperti wahana Kora-kora di Dufan, tapi kapal yang ini agak lebih kecil. Kami langsung semangat ingin mencoba ingat betapa serunya Kora-kora mengobok-obok perut. Tapi ternyata kora-kora versi Genting garing abis, bukannya di ayun sampai hampir 900 seperti Kora-Kora di Dufan, eehh..malah diayun-ayun dikit doang. Dari tadi nunggu kok ga kencang-kencang ni ayunan! Untungnya kami dapat hiburan seru, seorang cewek yang duduk persis di depan kami jadi pelawak abis, ayunan garing begitu histerisnya seperti naik Roller Coaster bolak-balik. "aaaaaaaahhhhh!!!!" si cewek ga henti-hentinya berteriak plus ekspresi yang sukses bikin orang sekapal ngakak >_<..hahhaha :D

            Selanjutnya ingin naik Roller Coaster tapi antriannya pajang banget, akhirnya Pae beli token mau main tembak-tembakan berhadiah boneka (sepertinya Pae niat abis memenangkan boneka, entah apa alasannya :). Saya melihat permainan lempar gelang ke leher botol, sepertinya gampang, dan hadiahnya boneka TEDDY BESAR, wah, saya makin semangat waktu penjaganya bilang cukup kena satu botol aja! Cih, gampang, saya sombong :)! Ternyata tidak segampang itu sodara-sodara, leher botolnya sengaja dibuat beda dari botol biasa. 15 gelang pertama, lewat. Saya beli lagi token, kali ini 15 gelang lagi (saya lupa berapa ringgit), masih lewat. Saya masih penasaran! kali ini beli 20 token, Pae, Quyat, Thaend pun ikut membantu, dan BINGO!!!! Gelang yang saya lemparkan nyangkut di leher botol! Horeeeee!!!! Saya menang TEDDY! "Winner! Winner! Winner!" si penjaga mengumumkan kepada khalayak ramai sambil membunyikan lonceng keras-keras, saya serasa selebriti dengan spotlight mengarah ke saya, hohoho! :D Diberikan boneka beruang warna pink, saya bilang,
"Saya nak warna biru la..."
"You kena botol warna emas, you boleh pilih boneka," kata si penjaga. Yee..udah ah!
 


Menjelang pulang kami naik satu wahana lagi, entah apa namanya, pokoknya ada "space-space" gitu. Yang ini asli garing abis. Kita masuk ke ruangan seperti spaceship, ada televisi kecil dengan alien ngasih intruksi, jadi semacam misi gitu. Spaceship mulai berjalan, naik turun, serasa melewati bintang-bintang, namun kelihatan banget mainannya. Dari awal sampai akhir cuma itu doang! Naik-turun, Bah! Wahana macam apa ini >,

Sebelum turun ke hentian bus, kami kelaparan, tadinya kami sempat beli mie goreng yang dititipkan di locker dekat pintu masuk theme park, eehh..mienya sudah dingin, tapi dasar lapar, ya dimakan saja, pake sendok dari styrofoam kemasan mie yang disobek, naseeeb..:P Akhirnya, waktunya "turun gunung" pakai cable car lagi, dan Thaend acrophobia lagi.

Sekitar 1,5 jam kemudian, kami sampai di Puduraya. Saat itu pukul 5 sore. Petualangan masih berlanjut, tujuan berikut Dataran Merdeka. Quyat lupa-lupa ingat jalan menuju kesana, dia bahkan menyebutnya Tanah Merdeka, saat kami bertanya pada salah seorang Mak Cik Polis (hehehe..maksa, maksudnya Polwan). Tanya satu dua orang, akhirnya kami di sarankan naik monorail dari Puduraya menuju Mesjid Jamek, turun disana dan jalan ke Dataran Merdeka. Cukup capek juga, karena pada dasarnya kami berputar-putar, hal ini belakangan kami sadari saat hari terakhir di Pasar Seni yang tidak jauh dari Puduraya, kami berjalan ke arah belakang, yang ternyata langsung ketemu Dataran Merdeka, glek!

Dataran Merdeka atau Merdeka Square, adalah tempat diadakannya Annual National Day Parade. Terletak di depan landmarks Sultan Abdul Samad Building, yang merupakan background keren buat foto, seperti kata teman saya, "luar negeri banget" :) Kebetulan, saat itu sedang ada bazaar di Dataran Merdeka, terdapat beberapa stand yang menjual berbagai produk olahan Malaysia dan barang-barang seperti pakaian dan sepatu. Kami girang banget ketemu stand Upin & Ipin.
 


Quyat dan Thaend riang banget ketemu stand Crocs yang menjual barang bagus dengan harga miring.

Untuk makan malam, kami beli nasi tomato di salah satu stand, nasinya seperti nasi goreng tanpa cabe, dengan ayam kecap (atau tomat?) ukuran besar, dan potongan seledri. Yah, lumayan cocok di perut, terutama perut Thaend. Serunya, waktu lagi tanya-tanya nasi tomato itu apa, kami ditanya balik dari mana,
"awak dari mana ke?" kata mak cik penjual.
"dari Padang," jawab kami.
Waktu kami bilang akan kembali besok, dia berkata,
"Karena awak nak balik besok, ini saya kasih bonus!"
Kami di beri bonus desert manis, puding pandan yang disiram santan, dengan aroma seperti kue talam di Padang. Wah! Kami pun makan nasi tomato beserta desert manis dengan riang gembira di pinggir kolam Dataran Merdeka. Aahh..saya suka gratisan :D

Ada hal menarik waktu kami makan nasi tomato, serombongan orang dan beberapa orang petugas kepolisian yang sedang di jalan raya, tiba-tiba berhenti dari kegiatan masing-masing, berdiri dengan sikap tegap. Kami sempat bingung ada apa gerangan? Rupanya orang-orang tersebut langsung ambil sikap siap karena mendengar lagu kebangsaan Malaysia diputar dari arah stand bazaar yang sedang dalam upacara pembukaan resmi. Wah, patut ditiru ini :) siap Grak!

Pulang dari Dataran Merdeka kami jalan menuju Pondok Lodge, tapi masih sempat mampir ke sebuah bazaar, saya tidak tahu namanya, yang jelas dekat Masjid Jamek. Bazaarnya hampir sama dengan Petaling Street, tapi karena sudah malam, beberapa pedagang sudah tutup. Saya hanya beli 3 buah bros, seharga RM10. Ketika kami merencankan perjalanan, Quyat pernah ngasih tips untuk pintar-pintar menawar, asal jangan "sadis" nawarnya, katanya "jangan kelihatan banget orang Indonesianya." Saya dan Pae di stand penjual kerudung dan phasmina, sebenarnya kami tidak terlalu "sadis" menawar, tapi memang menawar separo harga (biasanya juga begitu toh?!), si penjual ngomel-ngomel sambil menyebut-nyebut kata "Indonesia" berkali-kali. Saya tidak tahu pasti artinya, karena dia bicara entah pakai bahasa ibu atau apa, tapi yang jelas masih agak kedengaran Melayu, yang pasti saya menangkap maksudnya kira-kira seperti ini, "orang Indonesia katanya mau shopping ke Malaysia, tapi nawar-nawar juga!" Saya kesal karena dia menyebut "Indonesia" berulang-ulang kali, sambil melotot dan pasang tampang benci saya dan Pae pergi. Huh! :(

Tapi, hanya kali itu saja kami bertemu orang yang kurang bersahabat, selebihnya kami bertemu orang-orang yang ramah, seperti Kak Ros di Pasar Seni atau Mak Cik yang ngasih kami desert gratis, atau abang sopir taksi dengan cerita yang menarik. Mengenai abang yang satu ini, akan saya ceritakan setelah ini :)

Sampai di Pondok Lodge, capeknya minta ampun, betis ngilu, telapak kaki capek luar biasa, seharian jalan-jalan juga membuat kami dehidrasi. Saat malam di penginapan kami mulai membuka bungkusan belanjaan, menghitung sisa ringgit, saling membayar utang, karena saat belanja atau makan di jalan kadang di bayar satu orang saja dulu, kemudian baru itung-itungan utang, maklum, kami kan budget traveler, jadi seringgit dua ringgit sangat berarti, hehe. Setelah bayar utang, hal seru lainnya adalah melihat hasil jepretan dari tiga kamera yang kami bawa, cekakak-cekikik menertawakan kekonyolan kami seharian itu. 

Bahkan, saat saya, Pae, dan Thaend sudah terkapar, Quyat masih sempat up load photo di facebook, dengan "mencuri" hot spot luber dari restoran sebelah :D.

Day 4, April 3rd, 2010

Hari ketiga di KL, diagendakan naik ke Twin Tower atau menara Petronas, ikon kebanggaan Malaysia. Kami sampai di KLCC kira-kira pukul 8, kami salah perhitungan, ternyata antrian yang akan naik ke Twin Tower udah panjang banget! Beberapa menit di line antrian, petugas ngasih info kalau tiket sudah habis, yaahh...gagal deh! Seharusnya antri dari pukul 6. Akhirnya kami hanya berfoto-foto di depan Twin Tower, seperti yang biasa dilakukan para turis :) Jalan ke taman di belakang Twin Tower, ternyata menyenangkan di sini, banyak pepohonan, kolam yang cukup luas, dan burung-burung yang berkicau. Seperti alam di tengah kota, pukul 10 masih banyak yang berolahraga. Senangnya kami bisa minum sepuasnya dari kran di taman, norak?? Biarin! :) 
 

 
suegeeeerr...

Memang menyenangkan punya banyak teman, sebelum kami berangkat ke KL, Quyat berteman dengan Faiz dan Iruwan di Facebook. Faiz berasal dari Kedah, Utara Malaysia, dan Iruwan tinggal di KL. Kami janji bertemu di KLCC. Saat lagi kalap memilih-milih Top Man diskonan, Faiz dan Iruwan datang. Berawal dari berkenalan di fb, akhirnya benar-benar bertemu. Di KLCC saya lagi-lagi kalap di Konokuniya, aaahhhh...tidaaakkkk...!! Banyak sekali buku-buku bagus, huhuhu. Tapi dari semua itu, yang paling menarik adalah saat bertemu seorang anak cowok manis, yang dengan sopannya bertanya pada Mamanya, "How much do I have Mama?" Si mama menjawab dengan bahasa Ibunya (Mandarin). Dengan antusias si anak memilih-milih buku, duduk dengan manis di lantai toko, dengan khusuk membaca buku pilihannya.
 
Cool Kid

Akhirnya, kami berpisah dengan Faiz dan Iruwan. Perjalanan selanjutnya ke Batu Cave. Suatu kebetulan kami bertemu sopir taksi sebangsa, bahkan nyaris sekampung, si Bapak berasal dari Kabupaten Kuntan Singingi, Provinsi Riau, yang bertetangga dengan Sumatera Barat, bahkan bahasa yang digunakanpun hampir sama. Senangnya bertemu saudara setanah air :)

Akhirnya, sampai di Batu Cave, ini merupakan tempat suci umat Hindu, berlokasi 13 km sebelah utara Kuala Lumpur. Disini terdapat gua batu dan kuil Hindu dan merupakan tujuan utama pada perayaan Thaipusam, yaitu acara perayaan kelahiran dewa Murugan bagi umat Hindu. Yang paling menarik, terutama untuk objek photo adalah patung Murugan, dengan cat warna emas, disebut-sebut sebagai patung Murugan tertinggi di dunia (42,7 m). 

Tidak terlalu lama di Batu Cave (entah mengapa ga betah di sana T_T) kami naik taksi menuju Pasar Seni. Saatnya membeli oleh-oleh! Dalam perjalanan menuju Pasar Seni inilah kami bertemu abang sopir taksi dengan cerita hidup yang menginspirasi. Si abang adalah orang Melayu, bernada bicara ramah, dan meskipun berbicara sepanjang perjalanan tidak membuat kami merasa dia seorang yang cerewet. Seorang diploma, pernah bekerja di perusahaan Jepang selama 13 tahun di Osaka. Si abang telah menjadi pengganti figur ayah di keluarganya sejak usia muda, karena Bapaknya telah meninggal. Sebagai anak tertua, dia merasa wajib untuk menjaga ibunya yang sudah tua. Si abang memutuskan berhenti bekerja di Jepang, pulang ke KL, dan bekerja sebagai sopir taksi. Bagi si abang, pekerjaan sopir taksi dilakoni bukan karena terpaksa, tapi memang itulah pilihan hidupnya. Alasan pertama, dia ingin bisa lebih dekat dan bisa menjaga sang ibu, alasan kedua, memberi kesempatan kepada adik perempuannya untuk bisa mencapai pendidikan lebih tinggi (saat ini adik si abang sedang mengambil kuliah S2 di New Zealand di bidang kedokteran). Sebagai seorang sarjana, si abang tidak merasa gengsi sedikitpun jadi sopir taksi. "Bagi saya ini dah cukup, yang penting saya bisa jaga mak saya, kerja tak payah, kalau dah penat, istirahat pulang," begitu kata si abang. Keikhlasan dan kelapangan hatinya menerima hidup sungguh menjadi cerita penuh makna bagi kami. Diakhir perjalanan tak lupa Quyat berfoto dengan "idola" baru kami ini, namun sayang kami lupa menanyakan namanya, bagaimana kalau di panggil "abang inspirasi" saja? :)

 Sampai di Pasar Seni, seperti rencana awal kami belanja oleh-oleh. Gantungan kunci (biasa banget), kaos KL, pernak-pernik, coklat, dan Pae beli keris yang nanti ditahan sama petugas bea cukai. Saya nemu Chocorocks, coklat mirip batu hias di aquarium. Tanpa perasaan saya pegang aja tu Chocorock, si penjual sampe histeris, "Oh no! Not by hand!" wahaha...ampunkan ibu, abisnya saya biasa pegang2 kalo mo beli duku :D

Selesai beli oleh-oleh, kembali ke Pondok Logde. Istirahat sebentar, jalan lagi ke Bukit Bintang. Kali ini kami melihat pertunjukan jalanan, seperti dua orang bapak-bapak yang satu ngecat seluruh tubuhnya denga warna emas, yang satu warna perak, sambil memeperagakan tari "keram" alias patah-patah. Yang mengagumkan seorang ibu dengan lihainya membentuk kawat menjadi berbagai macam bentuk, eh, ternyata  si ibu pake kursi roda. Wah, keren, dia tau pasti untuk tidak menggunakan cacatnya sebagai jualan untuk ngemis. Selanjutnya, makan di restoran Mamak, sebutan untuk restoran milik orang Arab. Bah! Bumbu karinya ampun deh, tajam banget, belom lagi ukuran paha ayamnya gede gila. Karena ga tahan aroma karinya, saya cuma makan pake ikan goreng tanpa cabe :(. Entah kenapa yang lain pada suka...Abis makan, saya bener-bener ga sanggup lagi kemana-mana. Thaend, Quyat dan Pae masih sempat jalan lagi ke BB, saya terkapar di penginapan. Zzzzzzz........=_=

Day 5, 4 April 2010

Akhirnya tibalah hari untuk kembali. Kami tak lupa berpamitan dengan orang2 yang sempat kami kenal di Pondok Lodge. Salah satunya keluarga bacpakcer dari Denmark. Saya lupa namanya, tapi mereka sangat mengagumkan. Ayah, Ibu, dan Aya, si bayi bermata biru. Sudah menjelajah Indonesia dari Sumatera, Jawa, Manado, dan Bali, bahkan akan ke Bali lagi di hari yang sama kami kembali. Yang paling bikin kagum, si ibu tidak sedikitpun terlihat terbebani oleh bayinya. Dia bahkan terlihat sangat enjoy selama perjalanan, kami berbarengan hingga ke bandara. Betapa kagumnya saya dengan tipe ibu seperti ini. Suatu saat jika tuhan memberikan anak, saya juga ingin membawa dia berpetualang agar dia tahu betapa dunia itu diciptakan tuhan dengan bermacam keunikan. Agar dia bisa belajar langsung tentang kehidupan melalui sebuah perjalanan, Amiin :)

Sampai di bandara semua baik-baik saja, sebelum akhirnya saya menghilangkan kartu perjalanan, dan kena ceramah di imigrasi T_T..hehehe.
"Lain kali awak jangan hilangkan ye!"
"Iya mak cik, ampuunnn..." =_=
Trus, Pae yang bawa keris di kasih peringatan,
"Awak nak tinggal keris ni atau kena balik dan check in kan ni keris di bagasi"
Akhirnya Pae kembali berlari-lari ke bagasi, beli keris murah, biaya bagasinya mahal, bah! Sama aja beli keris mahal :D

Saatnya boarding dan kembali menyaksikan "tali keledar" di seat pesawat.

Welcome back to Indonesia, dan langsung di sambut ketidakramahan. Maaf, saya enggak bermaksud menghina bangsa sendiri. Saya mencintai Indonesia segenap jiwa dan raga. Tapi, saya benci setengah mati dengan sopir taksi tak beretika di Bandara SSK II, Pekanbaru. Selama perjalanan ngamuk-ngamuk, bener-bener ga sopan.

Hhh...ya sudahlah, hal kecil semacam itu tidak akan merusak betapa serunya petualang saya, Pae, Quyat, dan Thaend. Betapa banyaknya kami melihat keunikan dan perbedaan ketika berinteraksi langsung dengan orang lain. Betapa banyaknya kami belajar dari petualangan. Dan betapa inginnya kami mengulang perjalanan ini :D

Wanna join????


.  .  .  .
 

 


5 comments:

  1. kueren.. photonya masih kurang deh.. kayaknya akan lebih lengkap dengan ada juga poto jalan alor, trus poto pas di cable car yg lagi menganga.. trus juga poto di depan prada.. kan keren juga tuh notenya its not about book not prada..

    momentnnya juga ada beberapa yg missed, mengenai si binguang tak ada, trus juga cekikikan malam2 liatin photo sampe ganggu si bule denmark di sebelah kamar yg menyebabkan si baby Aya bangun..

    trus juga tips dari bapak yg sebangsa dan setanah air mengenai memilih taxi di batu caves hingga kita akhirnya bertemu dengan si abang inspiratif..

    but at least kuereen.. mau juga ah bisa nulis..

    ReplyDelete
  2. iya sich, msh byk yang terlewatkan..nulis la Quy..ika mau aja upload byk2 poto, tp lama ding..huhuu processornya jadul..:D Eh, boljug tuh ide nulis 'its not about prada, its about the book" bahkan setiap poto bisa kita bikin cerita :)

    ReplyDelete
  3. Hiya saya dari Malaysia, really enjoyed reading your experience when you visited Malaysia.

    Saya penah ke Padang dengan teman dari Europah,it was a great place and so cheap!.. Tapi ada detik2 tidak enak juga, kerana semasa di wet market in Padang dan few places ada orang tidak bersopan-santun kerana saya berbeza cara pakaiannya dan caranya, lagi terus di teriak di wet market "Lihat itu, ini gaya2 banchi2 orang di Jakarta/Bandung!!" i was bit disappointed with that Neg- comments!!. Maybe they should learn not to judge a book by its cover. hahah..

    Other than that, everything was great! enjoyed the view and a week trip to Padang was a great experienced. Well keep your good work!..

    hope you enjoy www.pondoklodge.com

    Fainonline.net
    Fain Wahab
    Malaysia

    ReplyDelete
  4. hi, Fain..Thank you fo visiting Padang too :) but, I really sorry for the harsh comment you heard, as we know many people are so uneducated and don't know how to respect other...Did you visit Bukittinggi? :)

    ReplyDelete
  5. hai Fain.. you work at pondoklodge..??
    saya last week baru saja dari malaysia dan menginap disana, mungkin kamu masih ingat saya..??

    hayo berkunjung lagi ke padang tapi saya sarankan kamu ke Bukittinggi, disana udaranya sejuk, viewnya juga bagus, bisa shopping2.. hehehe..

    ReplyDelete

Hi, I love comments :)

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...