Monday, 14 June 2010

Burnett's Perfect Little Princess

"A Little Princess," novel karangan Frances Hodgson Burnett (1849-1924) yang sebenarnya ditujukan untuk semua umur, tapi lebih dikenal sebagai novel anak. Bercerita tentang gadis kaya dengan sikap sempurna layaknya seorang putri, Sara Crewe anak perempuan dari Raplh Crewe yang dikirim dari India ke London oleh ayahnya untuk bersekolah di sekolah asrama putri Nona Minchin. Meskipun sempat jatuh miskin karena ditinggal mati ayahnya dan menjalani hidup sebagai pelayan, Sara akhirnya meraih kebahagiaannya ketika ternyata sahabat sekaligus rekan bisnis ayahnya menemukan Sara dan mengembalikan kekayaan yang seharusnya dibagi dua dengan ayah Sara. 


Dari pertama masuk, Sara sudah membuat kagum penghuni sekolah, terutama si guru tamak Nona Minchin, dengan mantel bulu dan gaun mahal yang dikenakan, serta gaya bicara dan sikap anggun. Di kelas Sara sering diejek, terutama oleh Lavinia dan Jessie yang iri, dengan panggilan "Putri Sara."

Kemudian sang ayah yang bertugas di India mati mendadak karena kesehatannya memburuk dipicu oleh bisnis tambang berlian yang dijalankan dengan teman dekatnya gagal. Ditambah lagi rekan bisnis si ayah pergi dengan meninggalkan kerugian yang besar. Tepat saat Sara tidak punya apa-apa lagi, Nona Minchin memaksa Sara untuk menjadi pelayan dan mengajar murid-murid yang lebih muda. Nona Minchin adalah guru yang tamak, menganggap murid-murid yang kaya adalah aset berharga untuk meraih keuntungan yang banyak dari orang tua mereka.


Meskipun dalam kemiskinan dan diperlakukan sebagai pelayan, gambaran seorang putri yang berbicara dengan pilihan kata terbaik serta sikap sempurna, tidak pernah terlepas dari Sara. Burnett menggambarkan bagaimana Sara begitu tenang dan tetap menjaga sikap ketika dihina oleh Nona Minchin dan juru masak di dapur. "Kenyataan bahwa dia tidak pernah bersikap atau berbicara dengan lancang bagi Nona Minchin merupakan sebuah kelancangan itu sendiri" (page 278)


Bahkan ketika seorang anak memberikan enam pence disaat Natal, karena pakaian Sara yang terlihat seperti pengemis, saudara perempuan si anak mengatakan bahwa dia sama sekali tidak terlihat seperti pengemis. Dan pengemis tidak mengucapkan kata, "Terimakasih, kau sangat baik." saat diberi uang, melainkan, "terimakasih tuan..."


Lebih jauh Burnett menggambarkan Sara yang telah jatuh miskin seperti berikut,


"Andai saja Sara lebih tua sedikit, Nona Minchin akan memintanya mengajar gadis yang lebih besar dan menghemat uang dengan memecat seorang isntruktur,...Sara dapat dipercaya menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan sulit dan menangkap pesan-pesan yang rumit. Dia bahkan bisa disuruh keluar membayar tagihan, dan kelebihan ini bersanding dengan kerapiannya membereskan kamar" (page 127)


Saat menjadi murid yang kaya, Sara tinggal dikamar mewah dengan ruang tamu khusus. Semua yang ada di kamar adalah benda-benda mahal. Tapi, ketika miskin, Nona Minchin memberikan sebuah kamar kotor tanpa perapian dengan kasur yang keras di loteng. Bersebelahan dengan kamar Becky, si pelayan. Becky adalah sosok pelayan yang sangat loyal. Ketika Sara masih murid kesayangan Nona Minchin, dia adalah pelayan yang ditugaskan khusus membereskan kamar Sara. Dan ketika dia dan Sara sama-sama seorang pelayan, Becky tetap menjaga sikap hormatnya layaknya seorang pelayan bagi Sara, contohnya tetap memanggil Sara dengan sebutan "Nona Sara."


Selain Becky, Ermengarde St. John adalah teman baik lainnya bagi Sara. Ermengarde anak bertubuh gemuk, mempunyai ayah yang sangat pintar, sang Ayah selalu menginginkan anaknya untuk bisa sepintar dirinya, namun Ermengarde sendiri adalah anak yang tidak terlalu pintar. Dia dan Sara merasa cocok, karena Sara selalu membantunya dalam pelajaran. Anak lainnya yang berteman baik dengan Sara adalah Lottie Leigh, Lottie, anak manja tanpa ibu, menganggap Sara adalah ibu angkatnya. Becky, Ermengarde, dan Lottie sama-sama menyukai Sara, terutama ketika Sara menceritakan kisah-kisah dan dongeng dengan kemampuan imajinasinya yang tinggi. Bagi ketiga gadis tersebut, Sara seperti pelengkap kekurangan mereka.


Bagi Becky si pelayan yang malang, Sara dengan cerita-ceritanya dapat membawanya sejenak lari dari rutinitas pekerjaan yang melelahkan. Bagi Ermengarde, cara Sara menceritakan isi sebuah buku, adalah alat bantu terbaik untuk mengingat pelajaran. Sementara bagi Lottie, tentu saja Sara adalah sosok ibu angkat yang sering menenangkan saat si anak manja menangis. Sara sendiri, menganggap kemampuannya bercerita dan berhayal adalah cara terbaik untuk bertahan di kondisi terburuk. "Kalau aku berhenti berkhayal, aku tidak yakin kalau aku bisa bertahan hidup" (lupa halamannya :) Sara sering membuat nyaman dirinya dengan membayangkan loteng yang dingin adalah kamar hangat dengan perapian dan karpet berbulu tebal.


Sehebat apapun Sara dimata Becky, Ermengarde, dan Lottie, dia tetaplah sosok yang sebenarnya membutuhkan seseorang tempat mengadu. Emily, boneka berwujud perempuan, hadiah sang ayah sepertinya sosok yang sering dibayangkan Sara sebagai ibu yang baik yang melindungi putrinya. "Salah satu khayalan Sara adalah bahwa Emily sebenarnya seorang penyihir baik hati yang bisa melindunginya" (page 169). Emiliy seperti figur ibu bagi Sara, saat dia tidak tahan dengan perlakuan dan tugas berat sebagai pelayan, dia menumpahkan kemarahan dan kekesalan kepada Emiliy. Dia menyesali Emily yang pada akhirnya tetaplah hanya sebuah boneka yang tidak dapat melakukan apa-apa.


Sara merasa bahagia saat Tuan Carrisford yang dipanggilnya Tuan India, menempati rumah tepat di sebelah loteng tempat tinggalnya. Sara berteman baik dengan Ram Dass, orang India, pelayan Tuang Carrisford. Pada akhirnya, diketahui bahwa Tuan Carrisford adalah teman baik dan rekan bisnis ayah Sara yang telah dua tahun mencari Sara, sebagai wujud penyesalannya karena telah meninggalkan Captain Crewe, hingga dia mati dalam kegagalan. Tuan Carrisford akhirnya menemukan Sara, dan mengembalikan harta dari hasil tambang berlian yang akhirnya sukses, yang memang seharusnya jadi bagian keuntungan untuk Sara. Sara meraih kembali posisinya sebagai "princess", mengajak serta Becky tinggal bersamanya, dan meninggalkan Nona Minchin dalam keadaan frustasi, karena harus kehilangan "tambang emasnya".


Saya sangat menikmati membaca novel ini, terlebih dengan gaya bicara Sara yang tetap tenang, menjaga sikap, tata bahasa, bahkan saat dalam situasi disudutkan. Mengajarkan saya untuk menghadapi seorang yang congkak, tidaklah harus dengan kecongkakan juga. Saya juga mengagumi cara Sara mengembangkan imajinasinya, mengajarkan saya untuk berkhayal lebih banyak, terutama jika saya ingin menjadi seorang tukang dongeng bagi anak-anak. Pesan lainnya adalah kadangkala kita tidak sadar bahwa sebenarnya yang kita cari ada begitu dekat. Tuan Carrisford mencari Sara selama dua tahun dari Prancis hingga Rusia, padahal Sara tinggal tepat disamping rumahnya.


Dalam novel ini, Burnett menyebut Ram Dass, pelayan dari India, dengan sebutan Oriental. Ini mengingatkan saya akan teori post-colonial yang saya gunakan untuk menulis skripsi sekitar dua tahun yang lalu. Jika saya membaca A Little Princess sekitar dua tahun yang lalu, barangkali saya lebih memilih novel ini untuk bahan penelitian daripada Kipling's The Jungle Book :D.


Saya jadi ingin membaca karya Burnett lainnya, terutama The Secret Garden dan Little Lord Fauntleroy. Mari ke Gramedia...:D

No comments:

Post a Comment

Hi, I love comments :)

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...