Tuesday, 8 June 2010

Tambuah Ciek!!! "Sedia Autan Sebelum Makan :)"


Saya bukan orang yang terlalu choosy soal tempat makan. Tentu saja saya merasa ok makan di restoran mahal, bersih, dengan menu yang lezat (meskipun sebenarnya tidak semua tempat mahal menyajikan menu dengan jaminan lezat). Bagi saya juga tidak masalah makan di warung kaki lima pinggir jalan. Tentu tidak di semua tempat, tetap saja saya mengamati penjualnya yang cukup bersih, tempatnya cukup rapi, dan banyak orang makan di sana.

Tapi terkadang saya "kecolongan" juga makan di pinggir jalan. Sekali waktu, saya makan di sebuah warung nasi uduk di Jln. Dahlia, Pekanbaru. Tempatnya biasa saja, khas warung nasi uduk dengan penutup kain dengan gambar2 berbagai macam lauk. Saya langsung pesan "cumi saos tiram," si penjual bilang ga ada, saya mau pesan "ikan nila saos tiram," tapi si abang bilang adanya cuma ayam. Yeee...ngapain ditulis, cumi, nila, bebek segala! Bohong! >,<. Baru saja duduk, puluhan nyamuk langsung datang menggigiti kaki saya, gila, sampai saya harus goyang-goyang kaki terus, kalo gini mah saya bisa makan sambil goyang patah-patah! Karena enggak tahan, saya nyari warung terdekat, beli AUTAN! Bah! Mau makan aja mesti pake anti nyamuk..ampun dah! 

Okelah, ayam goreng dan tempe gorengnya lumayan enak. Tapi kemudian, kejadian tidak enak langsung melintas di depan mata. Seekor kucing, tiba-tiba mengais-ngais tanah di dekat kaki meja di depan meja saya (lantai warung hanya dari tanah), mengambil posisi nyaman, ekor agak naik ke atas, kaki belakang menjijit, angkat bokong, dan...PREEEETTT!! Pluk! Pluk! Pluk! Tiga potong kotoran berjatuhan....wahahaha....ampunkan saya ya Allah....>_

Salah satu warung kaki lima favorit saya adalah warung Sate Nan Tongga di Jln. Pattimura, Pekanbaru. Saya yakin banyak warga Pekanbaru tahu warung ini. Mulai buka sekitar pukul 1500 setiap sore. Tukang jualnya beberapa orang abang-abang. Selalu rame, padahal di depannya jelas-jelas sebuah parit, yang kadang tikus-tikus suka lewat. Tapi, entah kenapa, warungnya benar2 rame, saya yakin seribuan tusuk sate terjual setiap harinya. Sate ini semakin nikmat dengan minum es kelapa muda dari gerobak sebelah. Dan saya juga heran, kenapa mereka enggak sewa sebuah ruko aja gitu, biar lebih nyaman....Menurut saya,perbandingan enaknya Sate Nan Tongga adalah Sate KMS di Padang (dulunya di depan Swalayan Hawaii dan Jln Pattimura, enggak tau sekarang), atau sate Laysir dan Haysah di Aur Kuning, Bukittinggi (konon kabarnya, Laysir dan Haysah adalah suami-istri, kemudian bercerai dan Haysah membuka warung sate sendiri dengan cita rasa berbeda dari sate Laysir namun khas, yang hanya berjarak beberapa meter dari warung sate Laysir. A good way to split from your husband is to steal his "assets" :D)

Beberapa kali saya diajak makan di warung nasi Padang "Cikapunduang" di Jln. Sudirman, Pekanbaru, masih warung kaki lima. Menempati emperan toko yang tutup di malam hari. Cikapunduang mulai buka sehabis Magrib. Masakannya enak, khas masakan Minang, santan berminyak dengan pedas yang pas, plus daging sumber kolesterol. Saya paling suka pesan "tambunsu" (usus isi tahu yang dicampur telor). Sungguh nikmat! Satu-satunya yang tidak nikmat adalah abang penjualnya. Gendut, acuh tak acuh, suka bersenandung ga jelas sendiri. Sekali waktu saya lagi makan disana, ingin minta "karupuak kuah" (kerupuk emping yang dikuahi).

Saya       : "Da, karupauk kuah ciek!"
Si Uda    : "nananana..."(senandung2 enggak jelas, sambil nyendok2 kuah gulai)
Saya       : "Da, karupuak kuah ciek Da!" (dengan suara lebih keras)
Si Uda    : "nananana...." (lagi-lagi senandung enggak jelas)

Kali ketiga saya habis kesabaran dan terpaksa "memuntahkan" bahasa Minang kasar,
"ee...pakak ang mah!" (huehehe..maafkan ketidakberadaban saya :)

Teman saya tiba-tiba berdiri, mengambil sendiri kerupuk, merobek bungkusnya dengan penuh kebencian, meletakkan di piring kecil, menyodorkan ke bawah hidung si Uda sialan untuk di kasih kuah! Bwwenci!! >,<

Kami "bertobat" untuk tidak makan di sana lagi. Tapi, beberapa hari kemudian, saya dan teman saya, makan lagi disana. Hahaha..dasar tobat "sambalado", tobat-tobat tapi tambah juga. Hehehe..

Tambuah Ciek! :D

Pesan: Jika suatu saat anda terpaksa harus makan di warung kaki lima dengan kondisi cukup menyedihkan, percayalah "kuman mati karena keyakinan" :D

No comments:

Post a Comment

Hi, I love comments :)

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...