Thursday, 15 July 2010

The Bubblegum Tree (Pohon Permen Karet), Alexander McCall Smith


Mr Gopal pemilik pabrik permen karet yang paling enak. Suatu hari Mr Gopal sangat gusar karena permen karet produksi pabriknya tidak lagi seenak biasanya. Penyebabnya adalah pasokan bahan pembuat permen karet terhenti. Untuk menyelidiki apa yang terjadi, Mr Gopal mengajak Billy, Nicola, dan Bibinya terbang ke India. Di hutan tempat pohon permen karet tumbuh, mereka disambut oleh Pak Bhalla, penduduk desa permen karet. Desa permen karet sangat unik, semua bangunan, rumah, sekolah, rumah sakit dibangun diatas pohon.

Dari cerita Pak Bhalla mereka tahu bahwa penyebab terhentinya pasokan bahan pembuat permen karet karena para pembalak liar mulai menebangi pohon-pohon permen karet. Billy punya rencana hebat untuk menghentikan para penebang pohon dan menyelamatkan pohon permen karet.

Suatu malam, Mr Gopal, Billy, Nicola, dan Pak Bhalla mendekati perkemahan penebang pohon. Mereka menakuti para penebang dengan menyelinap di balik semak, berpura-pura menjadi harimau dengan memakai kostum kulit harimau asli, dan mengaum seperti harimau. Hasilnya, para penebang lari tunggang langgang begitu melihat empat kepala harimau muncul di balik semak.

Ide cemerlang Billy akhirnya menyelamatkan pohon-pohon permen karet dari pembalakan, dan menyelamatkan mata pencarian penduduk desa permen karet.
. . . .

Saya baru tahu kalau Alexander McCall Smith ternyata menulis cerita anak. Setahu saya, salah satu karyanya yang terkenal adalah novel tentang kantor detektif wanita No.1, yang saya punya Morality for Beautiful Girl, tapi tidak selesai baca :D. Saya menyukai ide cerita The Bubblegum Tree, dan pesannya untuk tidak menebang hutan, selain merusak lingkungan, masyarakat sekitar yang menggantungkan hidupnya dari menjual hasil hutan (di buku ini penduduk menjual getah pohon permen karet) juga akan terancam. Hanya saja, jika penulis menghimbau kita untuk peduli lingkungan, itu artinya kita tidak hanya seharusnya menjaga flora, karena fauna juga sama pentingnya untuk dijaga. Saya merasa terganggu karena Mr Gopal, Billy, Nicola, dan Pak Bhalla menggunakan kulit harimau untuk menakuti-nakuti pembalak. Itu artinya, sebelumnya penduduk desa permen karet juga telah membunuh satwa, bukan?

Saya jadi berpikir, jika suatu saat saya membaca buku ini dengan anak saya (amiiin..:) dan dia akan bertanya, "
 Mama, kenapa harimaunya hanya tinggal kulit? Apa yang terjadi?"
Haruskah saya menjawab, "Sayang, harimaunya telah dibunuh, dikuliti, dan kulitnya dijadikan permadani oleh penduduk desa..."
"Oh, what a cruel answer, Mommy...!!", jawab anak saya yang kritis dan jago English :D :D :D)

14 July, 2010

No comments:

Post a Comment

Hi, I love comments :)

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...