Thursday, 15 July 2010

Gadisku sayang..gadisku sayang...

Begitu dekat kematian. Kamis, 8 Juli, pagi, tiga ekor kucing ku yang cantik masih dengan riangnya melompat kesana kemari. Gadis, induk kucing, upik banun si anak betina, dan buyung, si anak jantan. Sorenya, sepulang saya dari kantor upik banun keliatan sakit, terlihat lemah, tidak sanggup berdiri, muntahnya berserakan di mana-mana, dan mulutnya berbusa. Saya tau pasti, dia keracunan. Kalap, saya berlari menuju warung terdekat, membeli susu kental manis putih. Susu, dianjurkan diberikan untuk pertolongan pertama keracunan. Slimi, kucing saya di Padang dulu, alhamdulillah masih sempat tertolong dari keracunan setelah dicekoki susu putih.

Saya mendekap upik banun erat di dada, mencium hidung merahnya, membelai bulu di kepala dan perutnya, sambil terus menyuapi susu. Dia meringis, entah apa yang sakit, mungkin tubuhnya terasa nyeri. Dengan meneteskan airmata, saya terus-terusan menyuapinya, tak henti-hentinya menyebut nama Allah. Saya takut kehilangan. Lebih satu jam saya mendekap upik banun, dia terlihat makin kesakitan, kejang-kejang, sesak napas, berkali-kali terlihat seperti meregang nyawa, saya menangis sejadi-jadi berharap kalau kucing memang punya sembilan nyawa. Tapi, dalam satu regangan, upik banun pergi. Oh, sedihnya..saya mendekapnya erat, menangis minta maaf, karena saya merasa dia mati karena saya. Puas menangisi, saya mengambil sehelai jilbab yang masih bagus dan bersih, menidurkannya, meletakkan telinga saya di perutnya, mungkin saja masih ada detak jantung. Mungkin saja ada sebuah keajaiban. Tapi, tidak ada.


Saya turun ke bawah, tiba-tiba Gadis, si induk, mengeong dengan bunyi tidak normal, Ya Tuhan, dia juga keracunan, saya benar-benar putus asa. Saya merasa sudah terlambat, tapi saya terus menyuapi susu, Gadis terlihat lebih kuat dari anaknya, tubuh kejangnya mencengkram kuat tangan saya. Kukunya terbenam di pergelangan tangan, dan menggores tangan saya. Dia luar biasa kesakitan. Begitu kuat efek racun. Mungkin Upik Banun dan Gadisku sayang makan tikus beracun terlalu banyak, sampai menyerang seluruh tubuhnya. Mata hijau indahnya, nanar menatap saya, seolah berkata, "sudah terlambat, tolong, sakit.." Seperti anaknya, dalam satu sentakan, tubuh Gadis terkulai, dan pergi.



Saya peluk erat Gadis, menciumi bulunya, meletakkan diatas sehelai jilbab yang bagus, menempelkan telinga saya ke perutnya. Seperti yang saya lakukan terhadap Upik Banun, saya berharap keajaiban.

Seumur hidup, saya yakin tidak akan lupa tatapan mata mereka menjelang ajal. Ketika bangun tengah malam, saya menangis, melihat kedua mayat kucingku sayang, masih berharap keajaiban. Mungkin saja besok pagi mereka tiba-tiba bangun. Ternyata tidak ada. Besok paginya saya masih tidak bisa menahan air mata, betapa susah untuk ikhlas melihat mereka mati dalam kesakitan.

Upik banun ku sayang, Gadisku sayang sudah tiada, tinggalah buyung yang buta sebatangkara.

Malam itu, Buyung sangat patuh, dia tidur disamping saya, menempelkan bulunya yang hangat pada saya. Buyung tidak ikut makan tikus beracun, mungkin karena matanya yang buta, dia tidak melihat tikus di bawa ibunya. Meskipun punya penciuman yang cukup tajam, tapi kadang saat memberi makan, saya harus menyodorkan ke bawah hidungnya.

Buyung sendiri, but don't worry, masih ada Uni...

Apakah tulisan ini terlihat childish? Jika iya, maaf, saya bener-bener kehilangan. Sangat kehilangan.

1 comment:

  1. kucing yang ketemu di unand kemaren mirip dengan si gadis ini.. kita langsung ingat ama si gadis ika waktu tu..

    ReplyDelete

Hi, I love comments :)

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...