Monday, 19 July 2010

Kenakalan-Kenakalan Baru Emil, Astrid Lindgren


Pokoknya buku ini bercerita tentang kenakalan-kenakalan Emil, bocah laki-laki yang tinggal di Katthult, Desa Lonneberga, Smaland, Swedia.
·         Emil berniat menangkap tikus di dapur dengan memasang perangkap tikus, bukannya tikus yang tertangkap, perangkapnya malah menjepit jempol kaki ayah sampai berdarah.
·         Emil berniat menghibur ayah dan ingin memberitahu ayah bahwa ibu membuat bakso kesukaan ayah, tapi dia malah menumpahkan adonan bakso ke wajah ayah yang sedang tidur santai di bawah jendela.
·         Tidak puas menumpahkan adonan bakso, Emil lagi-lagi menyiram wajah ayah dengan adonan serabi kentang. “Blurp” begitu suara ayah saat adonan mendarat di wajahnya.
·         Saat menjalani hukuman kurungan di pondok perabot, Emil berusaha keluar dengan memanjat cerobong asap, dan sukses membuat takut Lina si pembantu dengan tubuhnya yang hitam kena arang dan penuh jelaga.
·         Saat akan menghadiri jamuan makan di rumah Nyonya Petrell, Emil datang dengan jangkungan  (engrang), memecahkan kaca jendela, dan mendarat dengan kepala lebih dulu di mangkuk jus blueberry, dan oopss..sukses membuat pingsan Nyonya Petrell, dan oh, Emil hanya kasihan dengan Nyonya Petrell yang pingsan, jadi agar lebih cepat siuman, Emil menuangkan sisa jus blueberry ke wajah Nyonya Petrell. Emil memang berniat baik..:D
·         Di pesta ulang tahun Pak Walikota, Emil membawa masuk Lukas, kuda kesayangannya ke ruang pesta, dan bersama Gottfrid, anak Pak Walikota, menyulut kembang api lebih awal. Membuat takut orang-orang di pasar malam Vimmerby karena mengira meteor yang akan menghancurkan dunia telah jatuh..beuh...tenang, ini belum semunya, masih ada kenakalan Emil selanjutnya, keep readingJ
·         Di hari natal, Ibu Emil yang baik hati biasa mengirimkan banyak makanan untuk penghuni panti penampungan tuna wisma, sayangnya, sang pengawas yang jahat dan rakus menghabiskan makanan sendiri, dan membiarkan orang-orang tua penghuni panti kelaparan di hari natal. Emil marah, dan ingin melakukan pembalasan. Emil membohongi si pengawas bahwa di desa sebelah sedang ada pesta besar, dia pasti akan mendapatkan kue keju yg banyak jika datang ke sana. Saat si pengawas pergi, Emil, Ida sang adik, dan Alfred si pembantu, mengeluarkan para orang tua dari jendela, mengundang mereka ke rumahnya, dan mengadakan “Pesta Sikat Bersih.” Yup,para orang tua yang kelaparan menyikat habis persediaan makanan natal saat Ayah, Ibu, dan Lina pergi ke pesta di desa sebelah. Karena kejadian ini, lagi-lagi Emil harus menjalani hukuman di pondok perabot, sungguh kasihan, padahal Emil hanya berniat baik memberi makan para orang tua yangg kelaparan. Oh, ada yang lupa, si pengawas yang jahat, terperosok ke lubang jebakan yang sebelumnya di buat Emil untuk menjebak srigala.
.  .  .  .
Astrid Lindgren selalu dengan ciri khas karakternya yang “extraordinary”. Kalau sisi kekanak-kanakan saya menilai, anak-anak karakter Lindgren seolah tidak senang dengan gaya sok kuasa dan dominasi orang dewasa. Sebut saja Pippi di Pippi Longstocking, Lotta, dan Emil. Emil menggerutu, saat ayah kena perangkap tikus, tersiram adonan bakso dan adonan serabi kentang, “Salahnya sendiri ayah selalu ada di mana-mana.” (page 32)..hahaha..egois memang. Tapi, meskipun begitu, Emil adalah anak berhati baik dan tulus, dia tidak terima saat orang-orang tua yang kelaparan dizalimi oleh pengawas panti yang rakus. Emil juga punya sisi dewasa saat dia menganjurkan Alfred seharusnya jujur terhadap Lina, jika dia memang tidak ingin menikahi Lina. Seperti yang pernah saya ungkapkan saat menulis tentang “Captain Underpants and the Attack of the Talking Toilets,” saya selalu menikmati bacaan tentang anak-anak “nakal” tapi dengan pengecualian, bahwa ternyata mereka kreatif atau baik hati. Menurut saya, Emil hanya “kelewat pintar”, ayahnya tidak memahami ini, namun sang ibu yang baik dan penuh sayang selalu punya keyakinan bahwa Emil tetaplah anaknya yang manis dan suatu saat akan berhasil, dan ibu benar. “Emil tumbuh jadi orang dewasa dan ia menjadi bupati, orang yang paling terpandang di seluruh Lonneberga.” (page 43) 
18072010

No comments:

Post a Comment

Hi, I love comments :)

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...