Sunday, 16 January 2011

Alvin Ho oleh Lenore Look

Saya perkenalkan anda kepada Alvin Ho.


“Hal pertama yang perlu kamu ketahui tentang aku adalah bahwa namaku Alvin Ho.
Aku takut pada banyak hal. Elevator. Terowongan. Jembatan. Pesawat terbang. Guntur. Guru pengganti.
Kimchi. Wasabi. Kegelapan. Ketinggian. Film seram.Mimpi seram. Disuntik. Sekolah.”
Selain itu, Alvin juga alergi pada anak perempuan, “Yang mengerikan dari anak perempuan adalah mereka bukan anak laki-laki,” begitu kata Alvin.
Usai membaca Alvin Ho saya sempat berpikir buku ini hanya tentang anak cemen bernama Alvin yang payah dalam segala hal. Sekilas, Alvin masuk ke golongan pecundang yang sering jadi “anak bawang” di sekolah. Tidak dianggap, bahkan sebagai pelengkap pun tidak. Sekitar seminggu memikirkan apa yang bisa saya tulis tentang buku ini, akhirnya saya sadar kalau saya salah menyimpulkan Alvin Ho. Buku ini bukan hanya tentang Alvin si Anak Payah.
Alvin tidak menyukai sekolah, dia tidak punya teman dekat di sekolah, dia sama sekali tidak berbicara di sekolah, bahkan dia membawa kotak PDK (Personal Disaster Kit) yang berisi barang-barang yang diperlukan saat berada dalam situasi sulit di sekolah. Diantaranya:
Peluit, jika Alvin kehilangan suara. Bawang putih untuk menangkal vampire dan guru. Topeng seram untuk menghalau anak-anak perempuan. Plester, kaca, pembesar, cermin, bandana, dan rute untuk melarikan diri.
Hal yang menarik dari Alvin bahwa dia sangat suka membaca, dia mengetahui orang-orang hebat berikut (penjelasan alakadarnya berdasarkan Alvin):
1. Beethoven-Komponis tersohor dari Jerman, menggubah sembilan simfoni, satu konserto untuk biola, dan banyak komposisi rumit untuk piano, bertampang seram.
2. Johannes Brahms-Komponis tersohor lain dari Jerman, memiliki patung dada Beethoven yang memelototinya ketika dia sedang menggubah lagu.
3. Frida Kahlo-Seniman wanita paling tersohor di Mexico.
4. Henry David Thoreau-Penulis tersohor yang sudah meninggal dan mencintai alam.
5. Louisa May Alcott-Penulis tersonor yang sudah meninggal. Dia menulis buku Little Women (jadi ingat kelas Women in Literature dengan Bu Dyah)
6. Nathaniel Hawthorn-Penulis tersohor yang sudah meninggal. Dia menulis The Scarlett Letter dan banyak cerita pendek lainnya.
7. Paul Gauguin-Pelukis Perancis yang terkenal, dia adalah teman Vincent van Gogh.
8. Ralph Waldo Emerson-Penulis tersohor yang sudah meninggal. Presiden Abraham Lincoln pernah satu kali makan malam di rumahnya.
9. Tenzing Norgay-Orang pertama yang mendaki puncak Everest pada Mei 1953.
10. Vincent van Gogh-Seniman Belanda yang selalu gagal dalam pekerjaan sebelum menemukan bahwa dirinya adalah pelukis di usia dua puluh tujuh tahun.
11. William Shakespeare-Pujangga Inggris yang sudah meninggal. Dia menulis banyak drama, puisi, caci-maki, kalau dia kehabisan kata-kata, dia menciptakan yang baru.
“@$%#%#^$&^$##@#@%%%#$#@!!!” begitu Alvin mengucapkan kata makian gaya Shakespeare dengan fasih kepada therapist yang memaksanya berbicara.
Alvin berusaha mencari teman dengan memaksakan diri bergabung dengan kelompok geng yang diketuai Pinky. Meskipun duduk sebangku dengan Flea (anak perempuan), Alvin merasa “tidak pantas” berteman dengannya. Ya, karena itu tadi, Alvin (menurut dia)alergi terhadap anak perempuan. Namun, Alvin gagal bergabung dengan geng Pinky dan mendapati dirinya justru merasa nyaman saat berinteraksi dengan Flea.
Flea, gadis riang yang memiliki penutup mata ala bajak laut karena salah satu mata Flea cacat sejak lahir. Menurut Alvin, penutup mata bajak laut Flea sebenarnya keren, ditambah cara berjalannya yang diseret-seret karena sebelah kaki Flea lebih pendek dari yang lain, sehingga dia semakin terlihat seperti bajak laut dengan kaki palsu dari kayu yang diseret-seret. Saya sangat menyukai Flea, penulis membuat karakternya cacat secara fisik, namun tidak pernah sedikitpun merasa terbebani dengan kondisi fisiknya. Flea juga jago beladiri khusus anak perempuan. Flea, ternyata adalah teman yang sangat peduli dan perhatian. Flea mempunyai sebuah buku yang disebutnya “Buku Tentang Alvin”. Alvin sama sekali tidak berbicara disekolah, tapi melalui matanya, Alvin mengungkapkan sesuatu. Flea menggambar semua ekspresi mata Alvin berikut penjelasannya. “Mata ini berarti dia sedang berpikir,” “mata ini berarti dia baik-baik saja,” “mata ini berarti dia harus pipis!”. Teman yang mengagumkan :D.
Salah satu pelajaran yang bisa saya ambil dari buku ini bahwa tidak menjamin anak lelaki selalu nyaman berteman sesama anak lelaki, kadang anak lelaki menemukan arti sahabat di anak perempuan, dan sebaliknya. Saya ingat suatu kali saat sedang menjemur pakaian, selintas mendengar tetangga saya memarahi anak laki-lakinya,
“Manga ang main jo padusi tu, ka jadi bencong ang?! (Ngapain main sama anak cewek? Mau jadi banci?!”)
Menurut saya, betapa sempit pikiran bapak yang satu ini, anak lelaki, anak perempuan mereka sama hebatnya, mereka tidak harus dibatasi berteman sesuai jenis kelamin. “Bapak sok ebat!”, kata saya.

. . . .

No comments:

Post a Comment

Hi, I love comments :)

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...