Tuesday, 7 June 2011

Hidup Dalam Kebaikan :)

Beberapa waktu yang lalu saya pulang kampung, di sebuah angkot di Kota Bukittinggi, tiba-tiba seorang nenek menyalami saya, agak tergagap saya menyambut salamnya. Sebenernya keramahan seperti ini tidak asing bagi saya saat beberapa tahun yang lalu masih di pesantren, saya sering  menerima senyum ramah, jabatan tangan, beserta ucapan salam seperti ini. Hanya saja, setelah beberapa tahun ini, saya jarang sekali menemui yang demikian. Bukan karena budaya keramahan tersebut tidak ada lagi, tapi mungkin setiap daerah punya budaya yang berbeda. 

Si nenek duduk menyeberangi saya, beliau berbicara sepanjang perjalanan, sebuah pembicaraan yang bermutu. Beliau fasih berbahasa Arab, kelihatan dengan jelas sebagai jebolan pesantren, saya aja kalah ;p. Si nenek mengucapkan rangkaian kalimat yang mengajarkan saya banyak hal, " Jika diberi umur panjang oleh Allah, jangan minta harta, rumah bertingkat, dan sebagainya, mintalah agar tidak pikun."
Sungguh nenek yang hebat, menebarkan pesan kebaikan dimanapun beliau berada.

Saya senang melihat senyum tulus anak ini, saya lupa tanya namanya, dia penghuni Panti Asuhan Srimujinab, Pekanbaru

Pagi ini, saat berjalan menuju kantor, saya menyapa seorang kakek berwajah teduh dan ramah yang sudah beberapa kali saya lihat. Saya hanya menegur beliau, minta izin jalan duluan, beliau mengangguk ramah sambil bertanya sedikit saya bekerja dimana. Ternyata saya satu angkot dengan beliau. Ditengah perjalanan, si kakek membayar angkot dan sekalian membayar ongkos saya, sambil berkata, "sudah dibayar, nak" :)

Bukan masalah ongkos dua rebu peraknya, tapi ketulusan si kakek yang lagi-lagi mengajarkan saya banyak hal. Sungguh ditengah semua hal yang memuakkan tentang pejabat korup atau orang yang merasa dirinya "anggota dewan yang terhormat" (tidak semuanya, saya kenal beberapa pejabat yang baik hati :), kebaikan kecil dan tulus semacam ini bagaikan oase di padang pasir yang tandus, halah :D. Kebaikan-kebaikan kecil seperti senyum tulus tukang sapu jalanan, kuli angkut di pasar, bapak penjual bubur dengan gerobak dorong yang saya temui hampir tiap pagi, jauuuuuuuuuuuuuuhh lebih membuat bahagia dari pada senyum munafik orang-orang yang tidak punya hati (siapakah mereka?), ah, tidak usahlah kita bahas, ini kan ceritanya tentang kebaikan :D

Photo ini diambil saat kantor saya memberikan bantuan kepada anak-anak di Panti Asuhan Srimujinab :)
Dari satu kebaikan kecil, mari kita menebarkan kepada yang lain, tidak masalah kecil, yang penting ketulusannya :)

.  .  .  .

2 comments:

  1. kenpa menangis..
    seharusnya kamu tersenyum lebih leluasa lagii,,karna kebaikan yang kamu buat bakal kamu tuai di hari esok.

    ReplyDelete

Hi, I love comments :)

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...